Alat Musik Calung dari "Sunda"

 


        Calung sudah dikenal oleh masyarakat Sunda sejak zaman kerajaan di tanah Sunda dan diyakini sudah ada sejak abad ke-14, bertepatan dengan masa penyebaran Islam di Indonesia. Awalnya, calung digunakan sebagai alat musik pengiring upacara adat dan ritual pertanian, seperti pengucapan syukur atas hasil panen dan pengusiran burung dari sawah. Di masa penjajahan Belanda, calung sempat dilarang karena dianggap mampu membangkitkan semangat perlawanan rakyat Sunda.

        Pada tahun 1960-an, calung mulai dikenal sebagai seni pertunjukan yang modern ketika mahasiswa dari Universitas Padjadjaran (UNPAD) mengembangkan bentuk kesenian calung menjadi lebih kompleks dengan menambahkan unsur alat musik lain dan vokal. Kini calung bukan hanya alat musik pengiring, tetapi juga menjadi bagian penting dalam pertunjukan kesenian rakyat yang menggabungkan musik, tari, dan lawakan.

        Calung dimainkan secara berkelompok dengan beberapa bilah bambu yang disusun rapi dalam sebuah rangka atau gapura bambu. Pemain calung memukul bilah-bilah bambu tersebut untuk menghasilkan nada dan ritme dengan harmoni menawan. Permainan calung membutuhkan koordinasi antar pemain untuk menciptakan rangkaian nada dan irama yang harmonis, sehingga menghasilkan musik yang penuh energi dan ekspresif.

Posting Komentar

1 Komentar